Fotografi menjadi sebuah perjalanan panjang yang membawa saya lebih dekat pada diri sendiri, memperkenalkan siapa saya sebenarnya, dan membantu saya memahami cara saya memandang dunia.
Melalui lensa kamera, saya belajar untuk memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya luput dari perhatian. Cahaya senja yang jatuh di sela dedaunan, ekspresi lelah namun tulus dari seorang pekerja jalanan, atau pantulan wajah saya sendiri di kaca jendela.
Semua itu mengajarkan saya untuk hadir sepenuhnya dalam setiap momen. Saya mulai menyadari bahwa cara saya memilih objek foto mencerminkan apa yang sedang saya rasakan. Saat hati saya sedang gundah ataupun saat pikiran saya penuh, fotografi memberikan ruang untuk saya menetralkan kembali hati dan pikiran.
Saat saya menangkap keindahan alam, hati saya kembali tenang dan ada
rasa Syukur yang muncul. Saat memilih sudut kota yang sepi, menjadi momen
refleksi dan memaknai perjalanan hidup. Fotografi menjadi cermin emosi yang
jujur, bahkan ketika saya sendiri sulit mengungkapkannya dengan kata-kata.
Proses memotret juga mengajarkan saya tentang kesabaran dan penerimaan. Tidak semua foto berhasil sesuai harapan. Ada kalanya cahaya tidak mendukung, momen terlewat, atau hasil akhir terasa mengecewakan.
Banyak hal yang saya pelajari dari kegagalan-kegagalan kecil itu, saya belajar bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Sama seperti hidup, fotografi mengajarkan saya untuk menerima ketidaksempurnaan dan melihat keindahan di dalamnya.
Setiap foto yang gagal
bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses belajar dan bertumbuh.
Selain itu, fotografi membantu saya menemukan keberanian untuk mengekspresikan diri. Awalnya saya ragu menayangkan hasil karya melalui akun sosial media saya. Ada rasa khawatir yang terselip, khawatir karya saya akan dinilai atau dibandingkan.
Namun perlahan, saya menyadari bahwa setiap foto memiliki cerita dan sudut pandang yang unik, tidak ada cara “paling benar” dalam melihat dunia. Saat saya mulai menayangkan karya-karya saya, saya mulai belajar menerima diri sendiri, termasuk kelebihan dan kekurangan yang saya miliki.
Saya belajar bahwa
suara dan pandangan saya layak untuk didengar dan dilihat.
Lebih dari sekadar hasil visual, fotografi mengajarkan saya untuk mengenal nilai-nilai yang saya pegang. Saya tertarik pada cerita-cerita sederhana, kehidupan sehari-hari, dan kejujuran dalam ekspresi. Berawal dari sana, saya mulai memahami bahwa saya adalah pribadi yang menghargai keotentikan dan kedalaman makna.
Fotografi membantu saya menyusun potongan-potongan identitas yang sebelumnya terasa samar. Saya belajar untuk melalui perjalanan penemuan diri, dan lebih menghargai nilai diri, bahwa setiap individu memiliki originalitas masing-masing dan saya bangga menjadi diri sendiri tanpa harus menjadi orang lain agar dapat dihargai.
Pada akhirnya, perjalanan penemuan diri melalui fotografi adalah perjalanan yang terus berlangsung.
Setiap kali saya mengangkat kamera, saya tidak hanya menangkap gambar, tetapi juga merekam proses memahami diri sendiri. Fotografi menjadi ruang dialog antara saya dan dunia, sekaligus antara saya dan diri saya sendiri.
Melalui
perjalanan ini, saya belajar bahwa mengenal diri bukanlah tujuan akhir,
melainkan proses yang terus berkembang—seperti sebuah foto yang selalu bisa
dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Terkadang hanya perlu diam sesaat dan
hadir untuk menghargai atas semua yang ada di sekeliling.




Komentar
Posting Komentar