Belajar Sustainability Dari Birding Di Desa Purwosari

Cabai bunga-api (Dicaeum trigonostigma) Jantan dan betina

Beberapa saat yang lalu saya baru menyadari bahwa memotret alam merupakan cara saya menyalurkan passion yang saya mengamati alam. Saya jadi kembali teringat, bagaimana dulu saya sangat menyukai pelajaran IPA saat disekolah dasar serta Biologi dan Kimia saat saya berada di sekolah lanjutan. Salah satu hal yang sangat saya sukai adalah saat saya melakukan observasi atas fenomena yang terjadi di alam.

Salah satu genre photography yang setahun terakhir ini sedang saya banyak eksplor adalah genre birding photography atau memotret burung di alam liar. Saya baru mulai menyadari bahwa genre ini menjadi pemicu saya untuk kembali mengenang ketertarikan saya akan alam.

Setelah beberapa kali saya melakukan huting foto burung disekitaran rumah, salah satu lokasi yang sering saya kunjungi adalah Taman Margasatwa Ragunan, yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan tempat tinggal saya.

Namun dikesempatan kali ini, akhirnya saya berkesempatan melakukan birding hunting yang lokasinya sedikit agak jauh, di Desa Purwosari. Lokasi ini dikatakan agak jauh karena kalau dibandingkan dengan beberapa lokasi saya hunting sebelumnya, yang masih sekitaran Jakarta, Lokasi hunting kali ini berada di luar kota Jakarta, di Jogjakarta tepatnya.

Pengalaman berburu foto burung kali ini saya lakukan di Desa Purwosari, sebuah desa yang berlokasi di Puncak Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa Purwosari ini merupakan sebuah desa wisata yang tidak hanya menyajikan keindahan alam sebagai daya tariknya. Melalui tagline "Alam, Budaya, Mempesona" Desa Purwosari ini juga menawarkan pengalaman intergrasi yang harmonis antara alam, fasilitas dan aksebilitas yang disajikan dalam struktur kehidupan masyarakat yang autentik. Di desa ini, wisatawan akan merasakan pengalaman unik menyatu dengan kebiasaan dan tradisi masyarakat setempat, tanpa mengubah esensi budaya yang ada.

Pelanduk semak atau Horsfield's babbler (Malacocincla sepiaria)

Selain daya tarik yang ditawarkan sesuai dengan informasi yang ada di website resminya, desa ini juga memiliki keunggulan unik lain yang menarik bagi para pengamat burung dan penyuka birding photography. Daya tarik yang jarang ditawarkan oleh desa wisata lainnya, yaitu melalui usaha konservasi yang dilakukan oleh masyarakat, desa ini berhasil mengembalikan ekosistem lingkungan yang akhirnya mengembalikan kehadiran burung-burung liar, yang sebelumnya banyak berkurang karena adanya perburuan.

Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides)
Burung-madu Sriganti (Cinnyris jugularis)

Pengalaman hunting foto burung di Desa Purwosari ini saya lakukan di sela-sela saat saya melakukan perjalan trip foto ke Jogjakarta, sehingga waktu  yang dihabiskan saat hunting foto burung di Desa Purwosari tidak terlalu banyak. Sepertinya akan ada kunjungan berikutnya, karena masih muncul rasa penasaran untuk explore lebih banyak di desa ini.

Pelanduk-topi jawa (Pellorneum capistratum)

Pada pengalaman pertama birding ke Desa Purwosari ini, saya bertemu dengan beberapa spesies yang baru pertama kali saya temui, walaupun ada juga spesies yang sudah pernah saya temui di kesempatan hunting sebelumnya. Dari lebih kurang 3 jam pengalaman berburu ini saya bertemu dengan 5 spesies, yaitu :

  1. Cabai Bunga-api (Dicaeum Trigonostigma) jantan dan betina
  2. Peladuk-topi Jawa (Pellorneum Capistratum)
  3. Peladuk Semak atau Horsfield's babbler (Malacocincla separia)
  4. Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides) yang juga dikenal sebagai pipit jawa atau emprit jawa
  5. Burung-madu Sriganti (Cinnyris jugularis)
Pengalaman berkunjung ke Desa Purwosari ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan untuk saya. Saya jadi belajar, bahwa usaha konservasi juga bisa menjadi pendorong untuk terciptanya sirkular ekonomi bagi masyarakat, dengan tetap menjaga lingkungan sehingga terciptanya sustainability. Dari Desa Purwosari menyadarkan bahwa untuk mendapatkan tujuan ekonomi, masyarakat tetap dapat berjalan beriringan dengan kelestarian alam. Sehingga Desa Purwosari tetap lestari dengan taglinenya Lestari Pursowari.

Komentar