Ketika ratusan kreator bertemu, berbagi,
lalu turun bersama untuk menangkap cerita dari sudut pandang masing-masing.
Ratusan
kreator dari berbagai komunitas bertemu dalam satu ruang di ICCS 2026.
Pagi yang Dimulai dengan Rasa Penasaran
Sabtu pagi, 25 Juli 2026, Signature Gallery di
PIK2 perlahan dipenuhi orang-orang yang datang dengan perlengkapan khas mereka.
Ada yang menggantungkan kamera di leher, membawa tripod di bahu, menyimpan
drone di dalam tas, atau cukup menggenggam telepon seluler. Mereka berasal dari
komunitas dan latar belakang yang berbeda, tetapi pagi itu semuanya datang
dengan rasa penasaran yang sama: cerita apa yang akan mereka bawa pulang dari
Indonesia Content Creator Summit 2026?
Di antara sapaan, jabat tangan, dan suara kamera yang mulai
terdengar, suasana cepat menjadi akrab. Peserta yang sebelumnya hanya saling
mengenal melalui unggahan media sosial akhirnya bertemu langsung. Nama akun
berubah menjadi wajah, komentar berubah menjadi percakapan, dan perkenalan
singkat segera berkembang menjadi obrolan tentang lokasi pemotretan, teknik
merekam, hingga pengalaman membuat konten yang tidak selalu terlihat oleh
penonton.
Sesi
berbagi membuka percakapan tentang proses, konsistensi, dan keberanian untuk
terus belajar.
ICCS 2026 diinisiasi oleh Urban Creators Community dengan
tema “Connect, Collaborate, Create Impact”. Tema itu terasa hidup sejak awal.
Acara ini bukan ruang tempat seseorang datang hanya untuk mendengarkan lalu
pulang. Ia menjadi titik temu bagi fotografer, videografer, pilot drone,
vlogger, dan kreator digital untuk saling bertukar pengalaman serta membuka
kemungkinan kolaborasi baru. Di ruangan yang sama, batas antarplatform dan
antarkomunitas seolah menghilang.
Belajar dari Cerita di Balik Karya
Rifky Widianto, Ketua Pelaksana ICCS 2026,
membuka gambaran tentang tujuan pertemuan tersebut. Menurutnya, ICCS hadir
sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan kreator dari berbagai komunitas,
platform digital, dan profesi. Pesannya sederhana: dunia kreatif akan menjadi
lebih kuat ketika orang-orang di dalamnya bersedia terhubung, saling membantu,
dan tumbuh bersama.
Percakapan kemudian berlanjut melalui sesi talk show bersama
empat narasumber dengan pengalaman yang berbeda. Wawan Hendra Irawan, yang
akrab dipanggil Kang Dewan, membawa cerita dari dunia fotografi. Novian
Altelucav atau Pak De Novian berbagi pandangan dari fotografi udara. Fajri
Hanggono mengajak peserta melihat proses kreatif dari sisi videografi,
sedangkan Siti Choiriyah, yang dikenal sebagai Mbak Aya, menceritakan
pengalamannya sebagai family and travel vlogger.
Mereka tidak hanya berbicara tentang hasil akhir yang indah.
Pembahasan justru banyak menyentuh perjalanan di balik sebuah karya: mencoba,
gagal, mengulang, dan terus belajar. Dari sana muncul satu pelajaran yang mudah
diingat. Menjadi kreator bukan sekadar mengejar satu unggahan yang viral. Karya
yang bertahan lahir dari konsistensi, kualitas, dan nilai yang benar-benar
dirasakan oleh audiens.
Empat
narasumber membawa pengalaman dari fotografi, videografi, aerial photography,
serta dunia vlogger.
Obrolan tentang peralatan juga terasa dekat dengan kehidupan
para peserta. Kamera terbaru memang menarik, tetapi alat terbaik tidak selalu
yang paling mahal. Alat terbaik adalah yang paling dikenal dan dikuasai
pemiliknya. Ketika seorang kreator memahami karakter kameranya, tahu batas
perangkatnya, dan mampu memaksimalkan cahaya serta komposisi, perlengkapan
sederhana pun dapat menghasilkan cerita yang kuat.
Ada pula pembicaraan mengenai jaringan pertemanan. Bagi kreator, networking bukan sekadar menambah kontak. Koneksi yang sehat memungkinkan ide bertemu dengan kemampuan yang tepat. Seorang fotografer dapat bekerja bersama videografer, pilot drone dapat melengkapi sudut pandang dari udara, sementara vlogger menyatukan semuanya menjadi cerita yang terasa personal. Kolaborasi membuat sebuah karya memiliki kemungkinan yang lebih luas daripada jika dikerjakan sendirian.
Saat Semua Orang Turun ke Lapangan
Setelah sesi berbagi selesai, energi acara
tidak mereda. Justru inilah saat yang paling ditunggu: “Ngonten Bareng”.
Peserta meninggalkan ruangan dan membawa kembali perlengkapan mereka.
Pengetahuan yang baru saja dibahas tidak dibiarkan tinggal sebagai catatan. Semuanya
langsung dicoba di lapangan, dengan suasana PIK2 sebagai kanvas bersama.
Perjalanan dimulai di Pantai Aloha. Sore itu, kawasan
pesisir menghadirkan nuansa tropis yang mengingatkan pada Hawaii. Sebagian
peserta mencari pantulan cahaya di permukaan air. Ada yang menunggu orang
berjalan melewati bingkai, ada yang mengatur gerakan kamera untuk video, dan
ada pula yang berdiskusi singkat sebelum menerbangkan drone. Di tengah
kesibukan itu, tidak terasa ada persaingan. Orang-orang justru saling
menunjukkan posisi menarik dan membantu mengambil gambar.
Ketika matahari turun, rombongan bergerak menuju Masjid Al
Ikhlas di PIK. Waktu blue hour membuat langit berubah menjadi biru lembut,
sementara cahaya bangunan mulai menyala. Suasana yang beberapa saat sebelumnya
hangat dan ramai mendadak terasa lebih tenang. Para kreator menyesuaikan
pengaturan kamera, menjaga tangan tetap stabil, dan menunggu saat ketika warna
langit dan lampu bertemu dalam keseimbangan yang pas.
Perjalanan belum selesai. Malam membawa peserta menuju kawasan Batavia. Jembatan dengan lampu warna-warni menjadi salah satu daya tarik utama. Bunyi shutter kembali bersahutan. Di satu sisi, beberapa orang membicarakan komposisi; di sisi lain, kolaborasi kecil muncul tanpa direncanakan. Seseorang menjadi talent, yang lain mengatur cahaya, lalu beberapa kamera merekam momen yang sama dengan gaya berbeda. Satu tempat melahirkan banyak cerita karena setiap mata melihat dengan caranya sendiri.
Lebih dari Sekadar Membawa Pulang Foto
Pada akhir hari, kartu memori mungkin dipenuhi
ratusan gambar dan video. Namun, hal paling berharga dari ICCS 2026 tidak
tersimpan di dalam kamera. Ia hadir dalam percakapan baru, keberanian untuk
mencoba teknik berbeda, dan kesadaran bahwa kreativitas tidak harus tumbuh
sendirian. Para peserta datang membawa keahlian masing-masing, lalu pulang
dengan sudut pandang yang lebih luas.
Hari itu juga mengingatkan bahwa konten yang baik bukan
hanya soal gambar yang tajam atau video yang rapi. Konten menjadi berarti
ketika mampu membawa pesan, membangkitkan perasaan, atau memberi manfaat kepada
orang lain. Teknologi dapat membantu kreator merekam dunia, tetapi kepekaan
manusialah yang membuat rekaman itu memiliki cerita.
ICCS 2026 akhirnya menjadi gambaran sederhana tentang
kekuatan kolaborasi. Ketika fotografer, videografer, pilot drone, dan vlogger
berada dalam satu ruang, mereka tidak kehilangan ciri khas masing-masing.
Sebaliknya, perbedaan itu justru saling melengkapi. Satu orang melihat detail,
yang lain menangkap gerak, sementara yang lain membawa penonton melihat dari
ketinggian atau mengikuti perjalanan secara lebih dekat.
Malam ditutup dengan rasa lelah yang menyenangkan. Ada
banyak hasil yang belum sempat dipilih dan diedit, tetapi sudah ada janji untuk
saling mengirim foto, menandai akun, dan membuat karya bersama pada kesempatan
berikutnya. Dari satu hari di ICCS 2026, lahirlah ratusan pertemuan dan ribuan
memori visual. Sampai bertemu di ruang kolaborasi berikutnya. Tetap rekam
keindahan di sekitar kita, terus berbagi cerita, dan ciptakan dampak melalui
karya.
Yang tersisa setelah acara bukan hanya dokumentasi,
melainkan juga rasa percaya bahwa setiap kreator selalu memiliki sesuatu untuk
dibagikan. Tidak perlu menunggu perangkat sempurna atau jumlah pengikut yang
besar. Sebuah karya dapat dimulai dari rasa ingin tahu, kemauan mendengar, dan
keberanian mengajak orang lain berjalan bersama.
◆
Komentar
Posting Komentar